Jumat, 31 Maret 2017
Cara Mengatasi Anak Yang Susah Tidur terbaru
Menurut sebuah studi, bahwa anak-anak yang sering tidur larut malam dan tidurnya tidak teratur berpengaruh pada kinerja otak mereka.
Penemuan ini berasal dari studi yang dilakukan di Inggris, dengan melibatkan lebih dari 11.000 anak-anak.
Anak-anak yang tidak tidur teratur atau tidur diatas jam 21.00 memiliki skor yang rendah dalam membaca dan matematika.
Kebayang kan bunda, masa depan anak-anak kita.
Anak-anak kita akan susah bangun pagi padahal harus sekolah, jika di paksa bangun maka anak akan tertidur di kelas karena kurang tidur, akibatnya prestasi anak kita akan terus menurun.
Berikut cara mengatasi anak susah tidur:
○ Mulai mengatur jadwal tidur ke waktu normal, perlahan-
lahan yah bunda.
Jika anak terbiasa tidur larut malam seperti jam 11 malam,
maka lakukan penjadwalan ulang secara bertahap sampai
anak terbiasa tidur malam jam 8-9 malam.
Waktu tidur yang paling baik tidak melewati jam 9 malam.
○ Simpan mainan anak
Suasana tidur anak harus nyaman tanpa ada mainan,
karena jika ada mainan maka anak akan terus terdorong
untuk bermain.
○ Jangan biarkan anak tidur sore.
○ Batasi tidur siang, jika biasanya 2-3 jam ubah menjadi 1 jam.
○ Pastikan anak tidak sedang lapar.
Beri anak makan secukupnya, jangan berlebihan.
Minggu, 26 Maret 2017
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TUMBUH KEMBANG BAYI
Secara umum terdapat dua faktor yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang bayi dalam kandungan:
Faktor Genetik
Faktor genetik ini merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang bayi.
Termasuk faktor genetik antara lain faktor bawaan yang normal atau patologis, jenis kelamin, suku bangsa atau bangsa.
Selain itu banyak penyakit keturunan yang disebabkan oleh kelainan kromosom, seperri down syndrome, tuner syndrome, dan lain-lain.
Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan.
Faktor lingkungan inisecara garis besar di bagi menjadi:
a. Faktor lingkungan yang mempengaruhi bayi pada waktu
masih dalam kandungan (faktor prenatal).
b. Faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang bayi setelah
lahir (faktor postnatal).
Faktor lingkungan prenatal yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin dari konsepsi sampai lahir antara lain:
a. Gizi Ibu pada waktu hamil
Gizi ibu yang jelek sebelum terjadinya kehamilan maupun
sedang hamil, lebih sering menghasilkan bayi berat badan
lahir rendah atau mati dan jarang menyebabkan cacat
bawaan dan mudah terkena infeksi.
b. Mekanis
Trauma dan cairan ketuban yang kurang, dapat
menyebabkan kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkan.
c. Toksin/zat kimia
Masa organogenesis adalah masa yang sangat peka
terhadap zat-zat teratogen. Misalnya obat-obat seperti:
thalidomide, phenitoin, methadion, obat antikanker, dsb
dapat menyebabkan kelainan bawaan.
Kelainan logam berat pada ibu hamil, misalnya karena
makan ikan yang terkontaminasi merkuri, kosmetik yang
mengandung merkuri dapat menyebabkan mikrosefali
dan palsi serebalis.
d. Endokrin
Hormon-hormon yang memungkinkan berperan dalam
pertumbuhan janin, adalah hormon totropin, hormon
plasenta, hormon tiroid, insulin dan paptida-paptida lain
dengan aktivitas mirip insulin.
Cacat bawaan sering terjadi pada ibu diabetes yang hamil
tidak mendapat pengobatan pada trisemester I kehamilan,
umur ibu kurang dari 18 tahun/lebih dari 35 tahun,
defisiensi yodium saat hamil.
e. Radiasi
Radiasi pada janin sebelum umur 18 minggu dapat
menyebabkan kematian janin, kerusakan otak, mikrosefali,
atau cacat bawaan lainnya. Misalnya pada peristiwa
Hiroshima, Nagasaki, dan Chernobyl. Adapun efek pada
laki-laki mengakibatkan cacat bawaan pada anaknya.
f. Infeksi
Infeksi intrauteri yang sering menyebabkan cacat bawaan
adalah TORCH (toxplasmosis, rubella, cystomegalovirus,
herpes simplex).
g. Stress
Stress yang dialami ibu pada waktu hamil dapat
mempengaruhi tumbuh kembang janin, antara lain cacat
bawaan, kelainan jiwa dan lain-lain.
h. Imunitas
Rhesus atau ABO ankomtabilitas sering menyebabkan
abortus, hidrops fetalis, kern ikterus, atau lahir mati.
i. Anoksia embrio
Menurunnya oksigenasi janin melalui gangguan pada
plasenta atau tali pusat, menyebabkan BBLR.
Masalah-Masalah Gizi Pada Ibu Hamil
Diabetes Mellitus
Pembagian diabetes mellitus pada kehamilan:
1. Diabetes mellitus yang memang sudah diketahui
Sebelumnya dan kemudian menjadi hamil
(DM Hamil= DMH = DM pragestasional). Sebagian
Besar termasuk golongan IDDM (Insulin Dependent
DM).
2. DM yang baru saja ditemukan pada saat kehamilan
(DM gestasional = DMG). Umumnya termasuk golongan
(Non insulin Dependent DM).
DM Gestasional sendiri dibagi dua kelompok:
1. Sebenarnya sudah mengidap DM sebelumnya, tetapi
baru diketahui saat hamil (sama dengan DMH).
2. Sebelumnya belum mengidap DM, baru mengidap DM
dalam masa kehamilan (pregnancy-Induced DM, DMG
Sesungguhnya, sesuai dengan definisi lama WHO 1980).
Pada kehamilan normal, terjadi kadar glukosa plasma ibu yang lebih rendah secara berkala karena:
1. Ambilan glukosa sirkulasi plasenta meningkat;
2. Produksi glukosa dari hati menurun;
3. Produksi alanin (salah satu prekursor glukoneogenesis)
menurun;
4. Aktivitas ekskresi ginjal meningkat;
5. Efek hormon-hormon gestasionak (human placental lactogen,
hormon-hormon plasenta lainnya, hormon ovarium,
Hipofisis, pankreas, adrenal, growth factors, dan
selain itu, terjadi juga perubahan metabolisme lemak dan
asam amino.
Faktor Risiko DMG
Riwayat obstetri meningkat:
■ riwayat abortus meningkat;
■ riwayat melahirkan bayi mati tanpa sebab yang jelas;
■ riwayat melahirkan bayi dengan cacat bawaan;
■ riwayat melahirkan bayi dengan berat lahir diatas 4.000g;
■ riwayat preeklampsia/eklampsia; dan
■ polihidramnion
Riwayat Medis Mencurigakan/hati-hati:
■ usia ibu saat hamil diatas 30 tahun;
■ riwayat DM ibu hamil, atau riwayat DM dalam keluarganya;
■ riwayat DMG/TGT pada kehamilan sebelumnya;
■ riwayat saluran infeksi kemih berulang selama hamil;
■ ibu obesitas;
■ riwayat berat badan lahir ibu diatas 4.000-4.500 g.
Pengelolaan Diabetes Mellitus Gestasional
Sesuai dengan pengelolaan medis DM pada umumnya, pengelolaan DMG juga terutama di dasari atas pengelolaan GIZI/DIET dan pengendalian berat badan ibu dengan ditambahkan sejumlah 300-500 kalori perhari untuk tumbuh kembang janin selama masa kehamilan, sampai selesai menyusui.
Pengelolaan DM dalam kehamilan bertujuan:
■ mempertahankan kadar glukosa darah puasa <105 mg/dl;
■ mempertahankan kadar glukosa darah dua jam pp < 120
mg/dl;
■ mempertahankan kadar Hb glikosilat (Hb A1c) < 6%-;
■ mencegah episode hipoglikemia;
■ mencegah ketonuria/ketoasidosis diabetik; dan
■ mengusahakan tumbuh kembang janin optimal dan normal.
Di anjurkan pemantauan gula darah teratur minimal 2 kali seminggu.
Jika pengelolaan diet saja tidak berhasil, langsung di gunakan insulin.
Pengelolaan Obstetrik
Pemeriksaan antenatal; pemantauan klinis ibu dan janin, terutama tekanan darah, pembesaran/tinggi fundus uteri, denyut jantung janin, kadar gula darah ibu, pemeriksaan USG, kardiotokografi (jika memungkinkan).
Jika ada makrosomia, pertumbuhan janin terhambat, gawat janin pertimbangan sectio cesarea.
Pada kehamilan normal, terjadi kadar glukosa plasma ibu yang lebih rendah secara berkala karena:
1. Ambilan glukosa sirkulasi plasenta meningkat;
2. Produksi glukosa dari hati menurun;
3. Produksi alanin (salah satu prekursor glukoneogenesis)
menurun;
4. Aktivitas ekskresi ginjal meningkat;
5. Efek hormon-hormon gestasionak (human placental lactogen,
hormon-hormon plasenta lainnya, hormon ovarium,
Hipofisis, pankreas, adrenal, growth factors, dan
selain itu, terjadi juga perubahan metabolisme lemak dan
asam amino.
Faktor Risiko DMG
Riwayat obstetri meningkat:
■ riwayat abortus meningkat;
■ riwayat melahirkan bayi mati tanpa sebab yang jelas;
■ riwayat melahirkan bayi dengan cacat bawaan;
■ riwayat melahirkan bayi dengan berat lahir diatas 4.000g;
■ riwayat preeklampsia/eklampsia; dan
■ polihidramnion
Riwayat Medis Mencurigakan/hati-hati:
■ usia ibu saat hamil diatas 30 tahun;
■ riwayat DM ibu hamil, atau riwayat DM dalam keluarganya;
■ riwayat DMG/TGT pada kehamilan sebelumnya;
■ riwayat saluran infeksi kemih berulang selama hamil;
■ ibu obesitas;
■ riwayat berat badan lahir ibu diatas 4.000-4.500 g.
Pengelolaan Diabetes Mellitus Gestasional
Sesuai dengan pengelolaan medis DM pada umumnya, pengelolaan DMG juga terutama di dasari atas pengelolaan GIZI/DIET dan pengendalian berat badan ibu dengan ditambahkan sejumlah 300-500 kalori perhari untuk tumbuh kembang janin selama masa kehamilan, sampai selesai menyusui.
Pengelolaan DM dalam kehamilan bertujuan:
■ mempertahankan kadar glukosa darah puasa <105 mg/dl;
■ mempertahankan kadar glukosa darah dua jam pp < 120
mg/dl;
■ mempertahankan kadar Hb glikosilat (Hb A1c) < 6%-;
■ mencegah episode hipoglikemia;
■ mencegah ketonuria/ketoasidosis diabetik; dan
■ mengusahakan tumbuh kembang janin optimal dan normal.
Di anjurkan pemantauan gula darah teratur minimal 2 kali seminggu.
Jika pengelolaan diet saja tidak berhasil, langsung di gunakan insulin.
Pengelolaan Obstetrik
Pemeriksaan antenatal; pemantauan klinis ibu dan janin, terutama tekanan darah, pembesaran/tinggi fundus uteri, denyut jantung janin, kadar gula darah ibu, pemeriksaan USG, kardiotokografi (jika memungkinkan).
Jika ada makrosomia, pertumbuhan janin terhambat, gawat janin pertimbangan sectio cesarea.
Hipertensi pada Kehamilan Preeklampsia/Eklampsia
Penelitian berbagai faktor risiko terhadap hipertensi pada kehamilan/preeklampsia/eklampsia:
Usia
Insiden tinggi pada primigravida muda, meningkat pada primigravida tua. Pada wanita hamil berusia kurang dari 25 tahun insiden > 3 kali lipat. Pada wanota berusia lebih dari 35 tahun, dapat terjadi hipertensi laten.
Paritas
■ angka kejadian tinggi pada primogravida, muda maupun
tua.
■ primigravida tua risiko lebih tinggi untuk preeklampsia
berat.
■ ras/golongan etnik.
■ Bias (mungkin ada perbedaan perlakuan/akses terhadap
berbagai etnik di banyak negara.
Faktor Keturunan
Jika ada riwayat preeklampsi/eklampsia pada ibu/nenek penderita, faktor risiko meningkat sampai +25%.
Faktor Gen
Diduga adanya suatu sifat resesif (recessive trait), yang di tentukan genotip, ibu dan janin.
Diet/gizi
Tidak ada hubungan bermakna antara menu/pola diet tertentu (WHO).
Iklim/musim
Di daerah tropis insiden lebih tinggi.
Tingkah Laku/Sosioekonomi
Kebiasaan merokok, insiden pada ibu perokok lebih rendah.
Hiperplasentosis
Proteinuria dan hipertensi gravidarum lebih tinggi pada kehamilan kembar, dizigotik lebih tinggi daripada monizigotik.
Patofisiologi Preekampsia
Sampai sekarang etiologi preeklampsia belum diketahui.
Eklampsia
Eklampsia adalah kelainan Akut pada wanita hamil, dalam persalinan atau Nifas, yang di tandai dengan timbulnya kejang dan/koma.
Anemia Pada Ibu Hamil
Anemia dapat di definisikan sebagai kondisi dengan kadar Hb berada dibawah normal. Di Indonesia Anemia umumnya disebabkan oleh kekurangan zat besi, sehingga lebih di kenal dengan istilah anemia gizi besi. Anemia gizi besi merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi selama kehamilan.
Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak.
Risiko BBLR pada ibu hamil
Di Indonesia batas ambang Lingkar Lengan Atas (LILA) dengan resiko Kurang Energi Kronis (KEK) adalah 23,5 cm hal ini berarti ibu hamil dengan resiko KEK diperkirakan akan melahirkan bayi Berat Badan lahir Rendah (BBLR). Bila bayi lahir dengan berat badan lahir rendah akan mempunyai risiko kematian, gizi kurang, gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan anak.
Hasil penelitian Jumirah, dkk, (1999) menunjukkan bahwa ada hubungan kadar Hb ibu hamil dengan berat bayi lahir, dimana semakin tinggi kadar Hb ibu semakin berat badan bayi yang dilahirkan.
Sabtu, 25 Maret 2017
GIZI IBU HAMIL
Kehamilan menyebabkan meningkatnya metabolisme energi, karena itu kebutuhan energi dan zat gizi lainnya meningkat selama kehamilan. Peningkatan energi dan zat gizi ini diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, pertambahan besarnya organ kandungan, perubahan komposisi dan metabolisme tubuh ibu. Sehingga kekurangan zat gizi tertentu yang diperlukan saat hamil dapat menyebabkan janin tumbuh tidak sempurna.
Zat Gizi Makro
Energi
Kalori yang dibutuhkan tergantung aktivitasnya ibu dan peningkatan BMR. Untuk ibu hamil ditambahkan 300 kalori/hari dari kebutuhan waktu hamil. Tambahan kalori bisa di dapat dari nasi, roti, mie, jagung, ubi, kentang dan sebagainya.
Protein
Protein diberikan tinggi untuk menunjang pembentukan sel-sel baru bagi ibu dan bayi. Penambahan protein sebesar 10 g/kg BB/hari. Protein tinggi bisa di dapat dari daging, susu, telur, keju, produk susu, dan ikan.
Lemak
Lemak pada jaringan iburutama diperlukan sebagai cadangan energi ibu. Lemaka dapat juga berfungsi lain, sebagai pembawa vitamin yang larut dalam lemak, serta fungsi lainnya. Khusus mengenai konsumsi lemak, harus pilih lemak yang banyaj mengandung asam lemak esensial.
Karbohidrat
Adanya hidrat arang diperlukan guna mencegah ketosis.
Zat Gizi Mikro
Kalsium, Fosfor, dan Vitamin D
Kalsium adalah salah satu zat gizi yang sangat penting untuk ibu hamil, disamping fosfor dan vitamin D. Ketiga zat gizi ini dibutuhkan untuk pembentukan tulang dan gigi pada janin. Apabila konsumsi ketiga zat gizi ini tidak mencukupi untuk ibu hamil melalui plasenta akan mengambil ketiga zat gizi tersebut dari ibu secara maksimal untuk pembentukan tulang dan gigi.
Fe (zat besi)
Kebutuhan Fe untuk ibu hamil meningkat untuk pertumbuhan janin.
Kebutuhan zat besi tiap trisemester sebagai berikut:
Trisemester I : Kebutuhan zat besi -+ 1mg/hari.
Trisemester II : kebutuhan zat besi -+ 5mg/hari.
Trisemester III : Kebutuhan zat besi -+ 5 mg/hari.
Sumber fe yang baik untuk ibu hamil terdapat pda daging, hati, dan sayuran hijau seperti : bayam, kangkung, daun singkong, daun pepaya dan sebagainya.
Yodium
Yodium merupakan salah satu mineral untuk pembentukan hormon tiroksin yang dibutuhkan untuk pertumbuhan janin. Kebutuhan yodium untuk ibu hamil adalah 125 mikrogram/hari.
Zink
Zink berperan penting pada pembentukan retinol biding protein sehingga vitamin A tidak dapat ditransfer ke fetus.
Magnesium (mg)
Magnesium berperan sebagai pembentukan tulang.
Mangan (Mn)
Bekerja sama dengan Fe.
Asam Folat
Asam folat dibutuhkan selama kehamilan untuk pemecahan sel dan sintesis DNA. Selain itu, asam folat dibutuhkan untuj menghindari terjadinya anemia megaloblastis pada ibu hamil. Kebutuhan asam folat 400-800 mikrogram/hari.
Vitamin E
Dibutuhkan untuk pertumbuhan bayi ibu dan janinnya saja, karena vitamin E terdapat pada asam lemak essensial yaitu asam lemak linoleat.
Vitamin A
Dibutuhkan untuk peralatan atau organ reproduksi ibu dan perkembangan janin atau fetus.
Vitamin K
Diberikan untuk menghindari terjadinya kelainan darzh pada janin.
Vitamin C
Dibutuhkan 60 mg/hari untuk ibu hamil, Vitamin C dibutuhkan untuk pembentukan substansi ekstraseluler jaringan pada janin.
Vitamin B
Dibutuhkan untuk ibu hamil cukup tinggi karenz berperN sebagai koenzim agar zat gizi kalori protein dapat diganti sebagai energi.
Langganan:
Postingan (Atom)
