Senin, 03 April 2017
Bahaya Jajanan/snack Pada Anak dan Pencegahannya
Makanan ringan atau snack mengandung banyak zat adiktif pada makanan seperti pengawet, pewarna makanan, pemanis buatan, minyak trans, garam maupun sodium.
Kandungan dalam makanan ringan atau snack tersebut tidak memberikan dampak positif atau gizi pada tubuh, melainkan berbagai efek negatif pada kesehatan anak.
Bahaya makan snack pada anak:
1. Obesitas
Didalam makanan ringan ada tambahan gula atau pemanis buatan. Pemanis buatan tidam mengandung gizi untum anak.
Pemanis buatan mengandung kalori yang jika berlebihan meningkatkan berat badan dan menyebabkan obesitas.
2. Gigi anak rusak
Gula yang terdapat dalam makanan ringan yang tertinggal didalam mulut menjadi tempat bersarangnya bakteri. Bakteri tersebut memproduksi asam yang dapat merusak gigi.
3. Anak jadi kurang makan
Rasa enak dan gurih dari snack yang anak makan sering membuat anak ketagihan untuk makan lagi, sehingga anak kurang suka makanan sehari-harinya seperti nasi, sayur dan ikan yang mengandung zat gizi yang dibutuhkan anak untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Akibatnya, pertumbuhan anak menjadi terganggu dan mudah terserang penyakit.
4. Anak kurang konsentrasi
Jika anak sudah memasuki usia sekolah, anak menjadi kurang fokus menangkap pelajaran.
5. Anak mudah sakit
Kadang tanpa disadari dengan tangan yang kotor anak makan snack. Disitulah dengan mudahnya bakteri masuk kedalam tubuh anak sehingga anak mudah sakit.
Pencegahan:
■ tidak ada salahnya memberikan makanan ringan atau snack pada anak, tetapi kita sebagai orangtua harus membatasi pemberian snack agar tidak berdampak burik pada anak.
■ berikan buah-buahan pada anak, buah mengandunf banyak kebutuhan nutrisi untuk anak. Buah juga mengandung vitamin dan antioksidan yang dapat menguatkan imunitas anak agar tidak mudah sakit.
■ jika anak ketagihan makan jajanan atau snack kurangi memberikan snack secara perlahan-lahan.
■ masakan makanan yang anak sukai seperti ayam goreng, atau sup ayam agar anak tertarik makan banyak. Jika anak sudah kenyang. Maka anak tidak tertarik makan snack lagi.
■ bukan hanya makanan snack kemasan yang harus kita hindari, makanan yang sering dijual di pinggir jalan, tanpa kita ketahui mengandung bahan-bahan yang sangat berbahaya bagi anak.
Minggu, 02 April 2017
Jangan Anggap Enteng Diare Pada Bayi, ini dia Cara Mengatasi Diare Pada Bayi terbukti
Diare adalah perubahan bentuk kotoran anak yang semula padat berubah menjadi lembek atau cair dan buang air besar tiga kali atau lebih dalam 24 jam.
Menurut World Health Organisation (WHO) diare adalah penyebab nomor satu kematian balita di seluruh dunia, dimana setiap tahun 1,5 juta balita meninggal dunia akibat diare.
Anak-anak adalah kelompok usia rentan terhadap diare, insiden diare tertinggi pada kelompok anak usia dibawah dua tahun, dan menurun dengan bertambahnya usia anak.
Faktor higiene dan sanitasi lingkungan, kesadaran orang tua untuk berperilaku hidup bersih dan sehat serta pemberian ASI menjadi faktor penting dalam menurunkan angka kesakitan diare pada bayi.
Cara mengobati diare pada bayi:
● Jika bayi berumur 0-6 bulan, terus berikan ASI tanpa cairan
lainnya.
● jika bayi berumur 6-24 bulan terus berikan ASI, MP-ASI,
untuk yang 18 bulan keatas bisa berikan sup ayam campur
sayuran agar anak mendapat cairan dari sup. Perhatikan juga
kebersihan peralatan makan anak.
● jika bayi minum susu formula sebelumnya dan tidak ada
masalah dan baru terjadi diare teruskan beri susu formula
dan berikan juga oralit, beri minum lima sampai 10 sendok
ajah dulu.
Segera bawa ke petugas kesehatan, bila anak tidak membaik dalam 3 hari atau bila ada tanda-tanda berikut:
○ buang air besar encer berkali-kali
○ muntah berulang-ulang
○ demam
○ makan atau minum sedikit
○ darah dalam tinja
Pencegahan diare:
● Pemberian ASI saja, tanpa cairan atau makanan lain (bayi
0-6 bulan) dapat menghindari anak dari bahaya bakteri
dan organisme lain yang menyebabkan diare.
● Perilaku hidup bersih dan sehat.
● biasakan mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang
air besar.
● peralatan makan bayi harus bersih.
● botol susu harus benar-benar bersih tidak ada sisa susu
dalam botol, botol susu harus direbus air panas.
Sabtu, 01 April 2017
Cara Mengatasi Anak Terlambat Berbicara Terbukti
Tanpa terasa waktu begitu cepat, si kecil sudah tumbuh. Tapi ada ajah masalah yang kita hadapi ketika si kecil tumbuh dan berkembang.
Seperti si kecil sudah 2 tahun tapi belum lancar berbicara. Ada sebagian orang tua yang membiarkan hal ini, ada juga orang tua yang khawatir karena melihat teman sebayanya sudah bisa bicara.
Membiarkan masalah ini bukanlah jalan keluar, anak tidak bisa belajar sendiri, anak harus di ajari.
Otak anak itu seperti kertas kosong, jika kita mengajarinya maka dia akan mengikutinya.
Di kampung ku ada yang bilang anak perempuan lebih cepat bisa bicara, yah benar secara medis ada benarnya, anak perempuan tingkat kedewasaannya lebih dulu daripada anak laki-laki, setelah itu di usia tertentu anak laki-laki akan mendahului anak perempuan.
Kata-kata orang tua dulu juga ada benarnya.
Kata-kata orang tua dulu juga ada benarnya.
Ada juga yang bilang jika anak cepat bisa berjalan maka bicaranya akan terlambat.
Kalo menurut pengalaman aku benar juga, anak ku juga begitu, jalannya cepat tapi bicaranya terlambat, intinya asalkan kita benar-benar fokus mengajari anak kita.
Kalo menurut pengalaman aku benar juga, anak ku juga begitu, jalannya cepat tapi bicaranya terlambat, intinya asalkan kita benar-benar fokus mengajari anak kita.
Normalnya, anak usia 1,5 tahun sudah bisa mengucapkan minimal 5 kata seperti memanggil mama, papa, ini, itu, apa, tidak. Saat memasuki usia 2 tahun anak sudah mampu merangkai kata sederhana.
Penyebab anak terlambat bicara:
1. Kurangnya komunikasi dengan orang tua.
2. Anak kurang bermain dengan teman sebayanya, hanya
bermain di dalam rumah.
3. Orang tua anak bekerja, sehingga kurangnya waktu
bersama anak.
4. Anak terlalu lama menonton televisi.
5. Anak hiperakif, sehingga kurang fokus.
Penyebab anak terlambat bicara:
1. Kurangnya komunikasi dengan orang tua.
2. Anak kurang bermain dengan teman sebayanya, hanya
bermain di dalam rumah.
3. Orang tua anak bekerja, sehingga kurangnya waktu
bersama anak.
4. Anak terlalu lama menonton televisi.
5. Anak hiperakif, sehingga kurang fokus.
Ini cara agar anak cepat bicara:
■ biarkan anak bermain dengan teman sebayanya, agar anak
terdorong untuk bicara.
■ kurangi menonton televisi, perkataan yang cepat kurang
dimengerti anak.
■ bisa juga melalui android atau ipad, download aplikasi
nama-nama buah atau binatang yang di ucapkan
dengan jelas, karena anak suka meniru ucapan dari
yang dia dengar dan mainkan dan menurut anak
anak menarik.
■ perdengarkan lagu anak-anak dan seringlah
nyanyikan bersama-sama. Nyanyikan sambil anak
beraktivitas saat anak mandi, makan, pakai baju dan lain
sebagainya.
■ usia 2 tahun adalah fase meniru, baik ucapan, tingkah laku.
■ ucapkan setiap kata dengan jelas dan perlahan agar anak
mudah meniru ucapan kita.
■ ucapkan kata yang anak lihat dan lakukan sehari-hari
seperti makan, minum, piring, mandi dan lain sebagainya.
■ perlahan mengajari anak, ucapkan satu kata seperti apel,
jika anak bisa mengucapkannya, lanjutkan dua kata seperti
apel merah.
terdorong untuk bicara.
■ kurangi menonton televisi, perkataan yang cepat kurang
dimengerti anak.
■ bisa juga melalui android atau ipad, download aplikasi
nama-nama buah atau binatang yang di ucapkan
dengan jelas, karena anak suka meniru ucapan dari
yang dia dengar dan mainkan dan menurut anak
anak menarik.
■ perdengarkan lagu anak-anak dan seringlah
nyanyikan bersama-sama. Nyanyikan sambil anak
beraktivitas saat anak mandi, makan, pakai baju dan lain
sebagainya.
■ usia 2 tahun adalah fase meniru, baik ucapan, tingkah laku.
■ ucapkan setiap kata dengan jelas dan perlahan agar anak
mudah meniru ucapan kita.
■ ucapkan kata yang anak lihat dan lakukan sehari-hari
seperti makan, minum, piring, mandi dan lain sebagainya.
■ perlahan mengajari anak, ucapkan satu kata seperti apel,
jika anak bisa mengucapkannya, lanjutkan dua kata seperti
apel merah.
Jumat, 31 Maret 2017
Cara Mengatasi Anak Yang Susah Tidur terbaru
Menurut sebuah studi, bahwa anak-anak yang sering tidur larut malam dan tidurnya tidak teratur berpengaruh pada kinerja otak mereka.
Penemuan ini berasal dari studi yang dilakukan di Inggris, dengan melibatkan lebih dari 11.000 anak-anak.
Anak-anak yang tidak tidur teratur atau tidur diatas jam 21.00 memiliki skor yang rendah dalam membaca dan matematika.
Kebayang kan bunda, masa depan anak-anak kita.
Anak-anak kita akan susah bangun pagi padahal harus sekolah, jika di paksa bangun maka anak akan tertidur di kelas karena kurang tidur, akibatnya prestasi anak kita akan terus menurun.
Berikut cara mengatasi anak susah tidur:
○ Mulai mengatur jadwal tidur ke waktu normal, perlahan-
lahan yah bunda.
Jika anak terbiasa tidur larut malam seperti jam 11 malam,
maka lakukan penjadwalan ulang secara bertahap sampai
anak terbiasa tidur malam jam 8-9 malam.
Waktu tidur yang paling baik tidak melewati jam 9 malam.
○ Simpan mainan anak
Suasana tidur anak harus nyaman tanpa ada mainan,
karena jika ada mainan maka anak akan terus terdorong
untuk bermain.
○ Jangan biarkan anak tidur sore.
○ Batasi tidur siang, jika biasanya 2-3 jam ubah menjadi 1 jam.
○ Pastikan anak tidak sedang lapar.
Beri anak makan secukupnya, jangan berlebihan.
Minggu, 26 Maret 2017
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TUMBUH KEMBANG BAYI
Secara umum terdapat dua faktor yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang bayi dalam kandungan:
Faktor Genetik
Faktor genetik ini merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang bayi.
Termasuk faktor genetik antara lain faktor bawaan yang normal atau patologis, jenis kelamin, suku bangsa atau bangsa.
Selain itu banyak penyakit keturunan yang disebabkan oleh kelainan kromosom, seperri down syndrome, tuner syndrome, dan lain-lain.
Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan.
Faktor lingkungan inisecara garis besar di bagi menjadi:
a. Faktor lingkungan yang mempengaruhi bayi pada waktu
masih dalam kandungan (faktor prenatal).
b. Faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang bayi setelah
lahir (faktor postnatal).
Faktor lingkungan prenatal yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin dari konsepsi sampai lahir antara lain:
a. Gizi Ibu pada waktu hamil
Gizi ibu yang jelek sebelum terjadinya kehamilan maupun
sedang hamil, lebih sering menghasilkan bayi berat badan
lahir rendah atau mati dan jarang menyebabkan cacat
bawaan dan mudah terkena infeksi.
b. Mekanis
Trauma dan cairan ketuban yang kurang, dapat
menyebabkan kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkan.
c. Toksin/zat kimia
Masa organogenesis adalah masa yang sangat peka
terhadap zat-zat teratogen. Misalnya obat-obat seperti:
thalidomide, phenitoin, methadion, obat antikanker, dsb
dapat menyebabkan kelainan bawaan.
Kelainan logam berat pada ibu hamil, misalnya karena
makan ikan yang terkontaminasi merkuri, kosmetik yang
mengandung merkuri dapat menyebabkan mikrosefali
dan palsi serebalis.
d. Endokrin
Hormon-hormon yang memungkinkan berperan dalam
pertumbuhan janin, adalah hormon totropin, hormon
plasenta, hormon tiroid, insulin dan paptida-paptida lain
dengan aktivitas mirip insulin.
Cacat bawaan sering terjadi pada ibu diabetes yang hamil
tidak mendapat pengobatan pada trisemester I kehamilan,
umur ibu kurang dari 18 tahun/lebih dari 35 tahun,
defisiensi yodium saat hamil.
e. Radiasi
Radiasi pada janin sebelum umur 18 minggu dapat
menyebabkan kematian janin, kerusakan otak, mikrosefali,
atau cacat bawaan lainnya. Misalnya pada peristiwa
Hiroshima, Nagasaki, dan Chernobyl. Adapun efek pada
laki-laki mengakibatkan cacat bawaan pada anaknya.
f. Infeksi
Infeksi intrauteri yang sering menyebabkan cacat bawaan
adalah TORCH (toxplasmosis, rubella, cystomegalovirus,
herpes simplex).
g. Stress
Stress yang dialami ibu pada waktu hamil dapat
mempengaruhi tumbuh kembang janin, antara lain cacat
bawaan, kelainan jiwa dan lain-lain.
h. Imunitas
Rhesus atau ABO ankomtabilitas sering menyebabkan
abortus, hidrops fetalis, kern ikterus, atau lahir mati.
i. Anoksia embrio
Menurunnya oksigenasi janin melalui gangguan pada
plasenta atau tali pusat, menyebabkan BBLR.
Masalah-Masalah Gizi Pada Ibu Hamil
Diabetes Mellitus
Pembagian diabetes mellitus pada kehamilan:
1. Diabetes mellitus yang memang sudah diketahui
Sebelumnya dan kemudian menjadi hamil
(DM Hamil= DMH = DM pragestasional). Sebagian
Besar termasuk golongan IDDM (Insulin Dependent
DM).
2. DM yang baru saja ditemukan pada saat kehamilan
(DM gestasional = DMG). Umumnya termasuk golongan
(Non insulin Dependent DM).
DM Gestasional sendiri dibagi dua kelompok:
1. Sebenarnya sudah mengidap DM sebelumnya, tetapi
baru diketahui saat hamil (sama dengan DMH).
2. Sebelumnya belum mengidap DM, baru mengidap DM
dalam masa kehamilan (pregnancy-Induced DM, DMG
Sesungguhnya, sesuai dengan definisi lama WHO 1980).
Pada kehamilan normal, terjadi kadar glukosa plasma ibu yang lebih rendah secara berkala karena:
1. Ambilan glukosa sirkulasi plasenta meningkat;
2. Produksi glukosa dari hati menurun;
3. Produksi alanin (salah satu prekursor glukoneogenesis)
menurun;
4. Aktivitas ekskresi ginjal meningkat;
5. Efek hormon-hormon gestasionak (human placental lactogen,
hormon-hormon plasenta lainnya, hormon ovarium,
Hipofisis, pankreas, adrenal, growth factors, dan
selain itu, terjadi juga perubahan metabolisme lemak dan
asam amino.
Faktor Risiko DMG
Riwayat obstetri meningkat:
■ riwayat abortus meningkat;
■ riwayat melahirkan bayi mati tanpa sebab yang jelas;
■ riwayat melahirkan bayi dengan cacat bawaan;
■ riwayat melahirkan bayi dengan berat lahir diatas 4.000g;
■ riwayat preeklampsia/eklampsia; dan
■ polihidramnion
Riwayat Medis Mencurigakan/hati-hati:
■ usia ibu saat hamil diatas 30 tahun;
■ riwayat DM ibu hamil, atau riwayat DM dalam keluarganya;
■ riwayat DMG/TGT pada kehamilan sebelumnya;
■ riwayat saluran infeksi kemih berulang selama hamil;
■ ibu obesitas;
■ riwayat berat badan lahir ibu diatas 4.000-4.500 g.
Pengelolaan Diabetes Mellitus Gestasional
Sesuai dengan pengelolaan medis DM pada umumnya, pengelolaan DMG juga terutama di dasari atas pengelolaan GIZI/DIET dan pengendalian berat badan ibu dengan ditambahkan sejumlah 300-500 kalori perhari untuk tumbuh kembang janin selama masa kehamilan, sampai selesai menyusui.
Pengelolaan DM dalam kehamilan bertujuan:
■ mempertahankan kadar glukosa darah puasa <105 mg/dl;
■ mempertahankan kadar glukosa darah dua jam pp < 120
mg/dl;
■ mempertahankan kadar Hb glikosilat (Hb A1c) < 6%-;
■ mencegah episode hipoglikemia;
■ mencegah ketonuria/ketoasidosis diabetik; dan
■ mengusahakan tumbuh kembang janin optimal dan normal.
Di anjurkan pemantauan gula darah teratur minimal 2 kali seminggu.
Jika pengelolaan diet saja tidak berhasil, langsung di gunakan insulin.
Pengelolaan Obstetrik
Pemeriksaan antenatal; pemantauan klinis ibu dan janin, terutama tekanan darah, pembesaran/tinggi fundus uteri, denyut jantung janin, kadar gula darah ibu, pemeriksaan USG, kardiotokografi (jika memungkinkan).
Jika ada makrosomia, pertumbuhan janin terhambat, gawat janin pertimbangan sectio cesarea.
Pada kehamilan normal, terjadi kadar glukosa plasma ibu yang lebih rendah secara berkala karena:
1. Ambilan glukosa sirkulasi plasenta meningkat;
2. Produksi glukosa dari hati menurun;
3. Produksi alanin (salah satu prekursor glukoneogenesis)
menurun;
4. Aktivitas ekskresi ginjal meningkat;
5. Efek hormon-hormon gestasionak (human placental lactogen,
hormon-hormon plasenta lainnya, hormon ovarium,
Hipofisis, pankreas, adrenal, growth factors, dan
selain itu, terjadi juga perubahan metabolisme lemak dan
asam amino.
Faktor Risiko DMG
Riwayat obstetri meningkat:
■ riwayat abortus meningkat;
■ riwayat melahirkan bayi mati tanpa sebab yang jelas;
■ riwayat melahirkan bayi dengan cacat bawaan;
■ riwayat melahirkan bayi dengan berat lahir diatas 4.000g;
■ riwayat preeklampsia/eklampsia; dan
■ polihidramnion
Riwayat Medis Mencurigakan/hati-hati:
■ usia ibu saat hamil diatas 30 tahun;
■ riwayat DM ibu hamil, atau riwayat DM dalam keluarganya;
■ riwayat DMG/TGT pada kehamilan sebelumnya;
■ riwayat saluran infeksi kemih berulang selama hamil;
■ ibu obesitas;
■ riwayat berat badan lahir ibu diatas 4.000-4.500 g.
Pengelolaan Diabetes Mellitus Gestasional
Sesuai dengan pengelolaan medis DM pada umumnya, pengelolaan DMG juga terutama di dasari atas pengelolaan GIZI/DIET dan pengendalian berat badan ibu dengan ditambahkan sejumlah 300-500 kalori perhari untuk tumbuh kembang janin selama masa kehamilan, sampai selesai menyusui.
Pengelolaan DM dalam kehamilan bertujuan:
■ mempertahankan kadar glukosa darah puasa <105 mg/dl;
■ mempertahankan kadar glukosa darah dua jam pp < 120
mg/dl;
■ mempertahankan kadar Hb glikosilat (Hb A1c) < 6%-;
■ mencegah episode hipoglikemia;
■ mencegah ketonuria/ketoasidosis diabetik; dan
■ mengusahakan tumbuh kembang janin optimal dan normal.
Di anjurkan pemantauan gula darah teratur minimal 2 kali seminggu.
Jika pengelolaan diet saja tidak berhasil, langsung di gunakan insulin.
Pengelolaan Obstetrik
Pemeriksaan antenatal; pemantauan klinis ibu dan janin, terutama tekanan darah, pembesaran/tinggi fundus uteri, denyut jantung janin, kadar gula darah ibu, pemeriksaan USG, kardiotokografi (jika memungkinkan).
Jika ada makrosomia, pertumbuhan janin terhambat, gawat janin pertimbangan sectio cesarea.
Hipertensi pada Kehamilan Preeklampsia/Eklampsia
Penelitian berbagai faktor risiko terhadap hipertensi pada kehamilan/preeklampsia/eklampsia:
Usia
Insiden tinggi pada primigravida muda, meningkat pada primigravida tua. Pada wanita hamil berusia kurang dari 25 tahun insiden > 3 kali lipat. Pada wanota berusia lebih dari 35 tahun, dapat terjadi hipertensi laten.
Paritas
■ angka kejadian tinggi pada primogravida, muda maupun
tua.
■ primigravida tua risiko lebih tinggi untuk preeklampsia
berat.
■ ras/golongan etnik.
■ Bias (mungkin ada perbedaan perlakuan/akses terhadap
berbagai etnik di banyak negara.
Faktor Keturunan
Jika ada riwayat preeklampsi/eklampsia pada ibu/nenek penderita, faktor risiko meningkat sampai +25%.
Faktor Gen
Diduga adanya suatu sifat resesif (recessive trait), yang di tentukan genotip, ibu dan janin.
Diet/gizi
Tidak ada hubungan bermakna antara menu/pola diet tertentu (WHO).
Iklim/musim
Di daerah tropis insiden lebih tinggi.
Tingkah Laku/Sosioekonomi
Kebiasaan merokok, insiden pada ibu perokok lebih rendah.
Hiperplasentosis
Proteinuria dan hipertensi gravidarum lebih tinggi pada kehamilan kembar, dizigotik lebih tinggi daripada monizigotik.
Patofisiologi Preekampsia
Sampai sekarang etiologi preeklampsia belum diketahui.
Eklampsia
Eklampsia adalah kelainan Akut pada wanita hamil, dalam persalinan atau Nifas, yang di tandai dengan timbulnya kejang dan/koma.
Anemia Pada Ibu Hamil
Anemia dapat di definisikan sebagai kondisi dengan kadar Hb berada dibawah normal. Di Indonesia Anemia umumnya disebabkan oleh kekurangan zat besi, sehingga lebih di kenal dengan istilah anemia gizi besi. Anemia gizi besi merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi selama kehamilan.
Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak.
Risiko BBLR pada ibu hamil
Di Indonesia batas ambang Lingkar Lengan Atas (LILA) dengan resiko Kurang Energi Kronis (KEK) adalah 23,5 cm hal ini berarti ibu hamil dengan resiko KEK diperkirakan akan melahirkan bayi Berat Badan lahir Rendah (BBLR). Bila bayi lahir dengan berat badan lahir rendah akan mempunyai risiko kematian, gizi kurang, gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan anak.
Hasil penelitian Jumirah, dkk, (1999) menunjukkan bahwa ada hubungan kadar Hb ibu hamil dengan berat bayi lahir, dimana semakin tinggi kadar Hb ibu semakin berat badan bayi yang dilahirkan.
Sabtu, 25 Maret 2017
GIZI IBU HAMIL
Kehamilan menyebabkan meningkatnya metabolisme energi, karena itu kebutuhan energi dan zat gizi lainnya meningkat selama kehamilan. Peningkatan energi dan zat gizi ini diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, pertambahan besarnya organ kandungan, perubahan komposisi dan metabolisme tubuh ibu. Sehingga kekurangan zat gizi tertentu yang diperlukan saat hamil dapat menyebabkan janin tumbuh tidak sempurna.
Zat Gizi Makro
Energi
Kalori yang dibutuhkan tergantung aktivitasnya ibu dan peningkatan BMR. Untuk ibu hamil ditambahkan 300 kalori/hari dari kebutuhan waktu hamil. Tambahan kalori bisa di dapat dari nasi, roti, mie, jagung, ubi, kentang dan sebagainya.
Protein
Protein diberikan tinggi untuk menunjang pembentukan sel-sel baru bagi ibu dan bayi. Penambahan protein sebesar 10 g/kg BB/hari. Protein tinggi bisa di dapat dari daging, susu, telur, keju, produk susu, dan ikan.
Lemak
Lemak pada jaringan iburutama diperlukan sebagai cadangan energi ibu. Lemaka dapat juga berfungsi lain, sebagai pembawa vitamin yang larut dalam lemak, serta fungsi lainnya. Khusus mengenai konsumsi lemak, harus pilih lemak yang banyaj mengandung asam lemak esensial.
Karbohidrat
Adanya hidrat arang diperlukan guna mencegah ketosis.
Zat Gizi Mikro
Kalsium, Fosfor, dan Vitamin D
Kalsium adalah salah satu zat gizi yang sangat penting untuk ibu hamil, disamping fosfor dan vitamin D. Ketiga zat gizi ini dibutuhkan untuk pembentukan tulang dan gigi pada janin. Apabila konsumsi ketiga zat gizi ini tidak mencukupi untuk ibu hamil melalui plasenta akan mengambil ketiga zat gizi tersebut dari ibu secara maksimal untuk pembentukan tulang dan gigi.
Fe (zat besi)
Kebutuhan Fe untuk ibu hamil meningkat untuk pertumbuhan janin.
Kebutuhan zat besi tiap trisemester sebagai berikut:
Trisemester I : Kebutuhan zat besi -+ 1mg/hari.
Trisemester II : kebutuhan zat besi -+ 5mg/hari.
Trisemester III : Kebutuhan zat besi -+ 5 mg/hari.
Sumber fe yang baik untuk ibu hamil terdapat pda daging, hati, dan sayuran hijau seperti : bayam, kangkung, daun singkong, daun pepaya dan sebagainya.
Yodium
Yodium merupakan salah satu mineral untuk pembentukan hormon tiroksin yang dibutuhkan untuk pertumbuhan janin. Kebutuhan yodium untuk ibu hamil adalah 125 mikrogram/hari.
Zink
Zink berperan penting pada pembentukan retinol biding protein sehingga vitamin A tidak dapat ditransfer ke fetus.
Magnesium (mg)
Magnesium berperan sebagai pembentukan tulang.
Mangan (Mn)
Bekerja sama dengan Fe.
Asam Folat
Asam folat dibutuhkan selama kehamilan untuk pemecahan sel dan sintesis DNA. Selain itu, asam folat dibutuhkan untuj menghindari terjadinya anemia megaloblastis pada ibu hamil. Kebutuhan asam folat 400-800 mikrogram/hari.
Vitamin E
Dibutuhkan untuk pertumbuhan bayi ibu dan janinnya saja, karena vitamin E terdapat pada asam lemak essensial yaitu asam lemak linoleat.
Vitamin A
Dibutuhkan untuk peralatan atau organ reproduksi ibu dan perkembangan janin atau fetus.
Vitamin K
Diberikan untuk menghindari terjadinya kelainan darzh pada janin.
Vitamin C
Dibutuhkan 60 mg/hari untuk ibu hamil, Vitamin C dibutuhkan untuk pembentukan substansi ekstraseluler jaringan pada janin.
Vitamin B
Dibutuhkan untuk ibu hamil cukup tinggi karenz berperN sebagai koenzim agar zat gizi kalori protein dapat diganti sebagai energi.
Langganan:
Postingan (Atom)



